Bertanya Tentang Manusia

Ketika aku bertanya tentang manusia, kau melihat warna-warni yang tak ingin disamakan. BerEgo ingin memperbaiki negeri, tapi menolak memperbaiki diri.

Ketika kau bertanya tentang manusia, aku melihat nasib kita. Terjebak hidup di bumi dengan jangkauan lengan yang pendek dan harapan yang panjang.

Pada akhirnya kita mengenal manusia sebagaimana adanya. Bagaimana pun juga, manusialah yang membuat penjara, tetapi manusia juga menjadi penghuninya.

20 Feb 2019

@mesbach #sajakjaiz

Sejalan Satu

Aku tak mernah menjadi diriku sendiri selama beberapa waktu ini.
Darah di dalam tubuhku mengalir berat laksana merkuri. 
Kadang-kadang bergelora, membuatku lelah dan demam. 
Memisahkan kesadaran dan perasaraan.
Membuat tawar jalanan, sumbang sesuaraan, juga makanan dan seluruh tidur di setiap malam.

Aku bisa saja menangis dengan sebelah atau kedua mataku. 
Kegilaan pikiran dan renjana yang tak biasa diceritakan dengan tawa.
Juga kekacauan, dalam kedipan mata yang cepat, dan nafas yang lambat-lambat.
Seperti pengemis yang kelaparan, kota-kota dan laku kekerasan.

Aku bisa tertawa dengan sebagain atau seluruh kepura-puraanku.
Dan senyum adalah dinding benteng teguh.
Seperti langit yang berpura-pura biru, dan sekar malam yang bercahaya

Ada sesuatu yang lepas dari sela jemari.
Sesuatu yang tak kusadari, kini kucari.

@mesbach
#SajakJaiz

Peron Stasiun


Debur mesin kereta menusukku dari peron stasiun
Menjadi batas yang datang dan yang pulang
Yang tidak ada dan tidak kembali
Ada sesuatu yang terlepas dari jemari, lalu pergi
Jadi sedingin tugu, aku tahu.

Kau tahu, Hidup adalah upaya memahami
dan menyanggupi apa yang tidak kau kehendaki
Dan sekali ini aku menulis puisi untukmu di alam raya pada malam sepi
Lalu kubiarkan diriku bersulang sendiri


@mesbach
#SajakJaiz

Menjadi dan Memiliki

Kelelawar adalah spesies yang istimewa. Khususnya karena memiliki sistem ekolokasi yang sangat efisien. Kelelawar tidak menggunakan alat melainkan dikembangkan didalam diri mereka. Kasus seperti ini terjadi juga pada banyak binatang seperti Paus dan beberapa jenis Burung.

Hal ini berbeda dengan Manusia. Manusia memiliki gairah untuk mencipakan sesuatu, untuk memiliki sesuatu.

Ketika Manusia ingin menjadi Kaya, mereka terus berusaha memiliki banyak Harta dan tidak menjadikan diri sendiri Kaya dengan mengembangkan sifat Qonaah. Kasus seperti ini berakhir banyak harta dan hati yang merasa kurang dan terus berkekurangan.

Kasus yang lain adalah menjadi Pintar, mereka terus belajar dan mengumpulkan banyak informasi Namun sama sekali tidak menjadikan dia terpelajar. Ilmu dan pengetahuannya tidak menjadikannya terpelajar, melainkan untuk memenangkan keinginannya untuk mengalahkan orang lain, menyalahkan orang lain, mencari aib orang lain dsb. Orang yang banyak memiliki Ilmu namun sama sekali tidak menerangi hatinya.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang bisa menjadi refleksi bersama.

Apakah kita sebagai manusia lebih peduli dengan “memiliki” daripada “menjadi”?

Hikmah Ikhlas

Sesaat membaca hikmah Ikhlas yang dituliskan di web Aswajamuda.com ada beberapa resume yang ingin kutuliskan disini.

Amal ibadah yang dilakukan tanpa ikhlas seperti jasad tanpa ruh. Ruh dari segala amal adalah Ikhlas. Saya memahami bahwa Ikhlas adalah penting dalam segala amal. Namun disisi lain ketika disadari bahwa

“Ikhlas adalah terselamatkannya amalan dari penyakit hati. Terselamatkannya amalan dari tercampurnya dengan nafsu”.

Semakin lama semakin disadari bahwa hal yang paling harus dimenangkan adalah menaklukkan diri sendiri, menaklukkan nafsu yang membisik-bisik di hati.
Ikhlas dibagi menjadi 3 tingkatan:

Ikhlasnya Orang Ahli Ibadah
Ikhlasnya orang ahli ibadah ditandai dengan selamatnya amal ibadahnya dari riya’ yang terang-terangan maupun yang samar. Contoh Riya’ yang saya maksud adalah:

  1. Riya’ dalam masalah penampilan jasmani.
    Misalnya memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar disangka banyak puasa dan tahajud.
  2. Riya’ dalam penampilan pakaian.
    Misalnya memakai baju koko untuk dikira sholeh, dan memperlihatkan tanda hitam di dahi untuk dikira rajin sholat.
  3. Riya’ dalam perkataan.
    Misalnya orang yang selalu bicara agama agar dipuji sebagai orang yang ahli agama.
  4. Riya’ dalam perbuatan.
    Misalnya orang yang sengaja memperbanyak shalat sunnah di hadapan orang banyak agar disangka orang sholeh. Atau seseorang yang pergi berhaji/umroh untuk memperbaiki citranya di masyarakat.
  5. Riya dalam persahabatan
    Misalnya orang yang sengaja mengikuti ustadz ke manapun beliau pergi agar disangka ia termasuk orang alim (bermaksud pamer).

Selain itu, amalan yang dilakukan oleh orang yang ahli ibadah agar ikhlas adalah terbebas dari tercampurnya amalan dengan nafsu, niat yang tidak sesuai misalnya.

Ikhlasnya orang yang Cinta kepada Alloh Ta’ala. Keikhlasan pada tingkatan ini melakukan amalan karena ingin mengagungkan Alloh Ta’ala. Bukan lagi karena mengharapkan surga dan neraka, namun karena kecintaan terhadap Alloh Ta’ala. Jika ada pertanyaan, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya?”, maka keikhlasan karena Cinta kepada Alloh Ta’ala akan menjawab, “Iya” seperti yang disampaikan Abu Sulaiman ad-Darani:

لَوْ خُيِّرْتُ رَكْعَتَيْنِ وَدُخُولِ الْفِرْدَوْسِ لَاخْتَرْتُ رَكْعَتَيْنِ. لِأَنَّ فِي الْفِرْدَوْسِ بِحَظِّي وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ بِرَبِّي.

“Andikan aku diminta memilih shalat dua rakaat dan masuk surga Firdaus, niscaya aku pilih shalat dua rakaat. Sebab dalam memilih surge Firdaus terdapat keuntungan bagiku, dan dalam memilih shalat dua rakaat terdapat kepatuhan terhadap Tuhanku.”

Ikhlasnya Orang yang Arif Bijaksana. Keikhlasan pada tingkatan ini menyadari bahwa Alloh Ta’ala telah mengatur segala apa yang terjadi pada dirinya maupun dunia, sehingga terlepas sama sekali dari sifat membagakan diri, sombong, riya’ dsb, karena kebaikan yang datang kepadanya adalah karena Alloh Ta’ala. Keikhlasan pada tingkatan ini juga tidak merasa eman dengan harta, dan sudah sepenuhnya terlepas dari merasa memiliki harta, karena merasa harta yang dimilikinya hakikinya adalah harta dari Alloh Ta’ala. Sama sekali tidak menghitung-hitung segala apa yang dilakukan dalam beribadah dan terbebas dari rencana (senang dan kecewa) dan kekuatan.
Keikhasan merupakan sifat baik yang perlu dilatih. Bukan berarti jika masih susah ikhlas kemudian tidak beramal. Mari berlatih untuk beramal dengan ikhlas.

 

Kerja Akal

Akal bekerja sesuai dengan konsep kebenaran. Nafsu dan kepentingan pribadi menjadi penyebab akal terhijabi dari kebenaran dan memilih untuk terkurung dalam sesuatu yang tidak perlu.

Akal bekerja untuk menuntun kepada kebenaran, bukan pada subtansi materi, tapi pada konsep. Contohnya ketika akal menentukan aksioma 1+1 = 2. Satu kayu ditambah satu kaya hasilnya adalah dua kayu. Bukan berarti jika kayunya tidak ada, kemudian satu ditambah satu tidak sama dengan dua. Meskipun percobaan empirik yang dilakukan adalah penjumlahan materi satu kayu ditambah satu kayu.

Mungkin dan Tidak Mungkin
Mungkin dan tidak mungkin adalah konsep yang dimiliki oleh akal yang banyak terpengaruhi oleh kepentingan dan pengalaman. Banyak orang yang menentukan mungkin dan tidak mungkin berdasarkan pengalaman, dan bukan pada kebenaran. Contohnya, apakah mungkin orang mati hidup lagi? beberapa orang akan mengatakan tidak mungkin, sebab mereka tidak pernah menjumpai. Aneh, mereka hanya penonton tapi mengatakan tidak mungkin, padahal tidak memiliki peran/kemampuan dalam menghidupkan/mematikan.

Kadang manusia lancang mengatakan tidak mungkin seolah-olah dia berkuasa atas segala sesuatunya. Perhatikan konsep SPO berikut ini.

“Zilong membuat mobil”

Namun ketika mobil buatan zilong hancur, beberapa orang akan mengatakan mobil tersebut tidak akan bisa kembali seperti sedia kala. Orang tersebut mengatakan hal tsb karena orang tersebut tidak bisa memperbaiki dan parahnya mewakili peran sebagai pembuatnya.

Subjeknya adalah Zilong, Predikatnya adalah membuat, dan objeknya adalah mobil. Jika yang dimaksud mobilnya bisa kembali lagi seperti sedia kala tanpa subjek, maka hal tersebut tidak mungkin, tapi jangan lupakan Subjek yang menguasi objek tersebut.

 

Prolog Sajak Jaiz

Bagi pena, prosaku serupa sebuah cintanya padaku yang tak akan mampu dihapus sendiri olehnya, dia mengorbankan tintanya habis menjadi makna hanya untuk menuliskan kata-kata yang kutahu tidak akan mengerti jika dibacanya.

Bagi buku, prosaku adalah serupa rahasia kenangan yang selalu dia jaga. dia menyerahkan lembar lembar kosong untuk kuisi dengan apa-apa yang kupikirkan. dia tahu dia akan habis dalam dekat. namun dia menyadari dengan prosa itu dia punya tempat istimewa untukku.

Tulisku kali ini adalah rumit, maka aku adalah senang, aku adalah lari, aku adalah mencapai, aku adalah genggam, aku adalah lupa, aku adalah mengabaikan, aku adalah mengerti, aku adalah aku. Aku adalah penyair yang bersandiwara dengan fitrahnya. mengenakan pakaian yang bukan perannya, memainkan pedang yang terbiasa pena, berucap berani padahal takutnya setengah mati. namun itu berhasil.

Aku menuliskan ceritaku dengan sederhana, dengan huruf-huruf yang berjajar lalu kuberi makna dengan hikmat mengguratkan kata-kataku yang telah kupilih diatas buku-bukuku.